Pendahuluan
Sepuluh tahun lalu, ketika saya pertama kali memulai perjalanan membangun Desa Wisata Kubu Gadang di usia 21 tahun, banyak pihak meragukan niat baik saya. Mereka berpikir desa wisata ini hanya akan bertahan satu tahun . Tidak ada pantai, tidak ada air terjun, hanya hamparan sawah dan ladang produktif yang mewarnai 70 persen wilayah desa . Namun saya meyakini bahwa tradisi dan budaya lokal yang dimiliki masyarakat Kubu Gadang—yang sebagian besar berprofesi sebagai petani—justru dapat menjadi objek wisata menarik jika dikemas dengan kreatif .
Kini, setelah satu dekade perjalanan, Kubu Gadang telah berkembang pesat. Desa wisata ini berhasil meraih berbagai penghargaan, masuk 75 Besar ADWI 2023 , dan bahkan nama saya sebagai local champion Kubu Gadang telah diakui hingga tingkat Asia melalui penghargaan Asia's Top Outstanding Young Marketer 2025 dari Asia Marketing Federation . Dalam perjalanan ini, saya menyadari satu hal yang fundamental: public speaking bukan sekadar keterampilan tambahan, melainkan senjata utama seorang local champion untuk membawa desa kecil menuju panggung nasional dan internasional.
Peran Local Champion dalam Desa Wisata
Penelitian menunjukkan bahwa peran local champion sangat krusial dalam pengembangan desa wisata. Desa wisata membutuhkan pemimpin dari komunitasnya sendiri yang dapat dipercaya dan berpengaruh dalam menyatukan tujuan serta misi bersama . Local champion berfungsi sebagai penggerak utama yang mampu membangun sinergitas antar pemangku kepentingan—mulai dari masyarakat, tokoh adat, pemerintah daerah, hingga pihak swasta .
Di Kubu Gadang, saya merasakan langsung bagaimana peran ini menuntut kemampuan komunikasi yang mumpuni. Di awal perjuangan, saya harus meyakinkan niniak mamak (pemimpin adat), alim ulama, dan masyarakat bahwa sawah yang terbentang luas bisa menjadi laboratorium utama yang akhirnya menjadi ladang keuntungan bagi kesejahteraan bersama . Tanpa kemampuan menyampaikan visi dengan meyakinkan, mustahil saya dapat menggerakkan perubahan.
Public Speaking: Jembatan dari Desa ke Asia
1. Membangun Kepercayaan dan Menggerakkan Masyarakat
Public speaking menjadi modal utama dalam membangun kepercayaan. Di Kubu Gadang, saya harus berbicara di depan masyarakat, menjelaskan konsep wisata edukasi berbasis pengalaman (experiential learning), meyakinkan mereka bahwa rumah mereka bisa menjadi homestay, dan bahwa tradisi seperti Silek Lanyah serta Randai Drama dapat dikomodifikasi menjadi atraksi wisata .
Penelitian pada desa wisata lain menunjukkan bahwa pelatihan public speaking secara signifikan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyampaikan informasi tentang potensi wisata, dengan 90% peserta mampu menjawab pertanyaan wisatawan dengan percaya diri . Ini membuktikan bahwa komunikasi yang baik bukan hanya penting bagi local champion, tetapi juga bagi seluruh ekosistem desa wisata.
2. Menjadi Ruang Belajar dan Berbagi
Salah satu pencapaian terbesar Kubu Gadang adalah menjadi ruang belajar—tidak hanya bagi wisatawan, tetapi juga bagi pengelola desa wisata lain dari dalam dan luar Sumatera Barat . Pada Forum Pembelajaran yang diselenggarakan WRI Indonesia di Kubu Gadang, peserta dari berbagai daerah belajar menyusun paket wisata, public speaking, serta pelibatan masyarakat dalam atraksi wisata . Mereka menyaksikan langsung bagaimana desa dengan sumber daya terbatas bisa berkembang berkat kreativitas dan kemampuan komunikasi yang baik.
Kemampuan public speaking memungkinkan saya untuk:
-
Menjadi mentor dan narasumber dalam berbagai forum
-
Menyampaikan pengalaman dan praktik baik Kubu Gadang kepada desa wisata lain
-
Menginspirasi lahirnya local champion baru di bidang ekowisata
3. Membawa Nama Desa ke Panggung Nasional dan Internasional
Puncak dari perjalanan ini adalah ketika Kubu Gadang dan nama saya mulai dikenal hingga tingkat Asia. Desa Wisata Kubu Gadang menjadi tuan rumah Festival Temu Penyair Asia Tenggara pada akhir 2022, yang dihadiri peserta dari sejumlah negara tetangga . Ini membuktikan bahwa desa kecil ini mampu menyelenggarakan even internasional.
Pada November 2025, saya menerima penghargaan AMF Youth of Marketeer of The Year di Colombo, Sri Lanka, di hadapan 13 negara se-Asia . Penghargaan diserahkan langsung oleh Duta Besar RI untuk Sri Lanka dan pakar pemasaran dunia Hermawan Kartajaya. Dalam kesempatan itu, saya membawa produk UMKM Padang Panjang untuk dipamerkan dan mendapatkan respons positif dari peserta internasional .
Tanpa kemampuan public speaking, saya tidak akan mampu:
-
Menyampaikan visi dan misi pengembangan desa wisata di forum internasional
-
Mempresentasikan inovasi dan strategi pemasaran Kubu Gadang kepada juri internasional
-
Membangun jejaring dan kolaborasi dengan para profesional pemasaran dari berbagai negara
Public Speaking dalam Konteks Desa Wisata Berkelanjutan
Pengembangan desa wisata berkelanjutan membutuhkan SDM yang unggul di bidang komunikasi. Pelatihan public speaking dan komunikasi lintas budaya menjadi kunci dalam membangun hubungan yang baik antara masyarakat dan wisatawan, serta meningkatkan daya tarik desa wisata .
Di Kubu Gadang, kemampuan public speaking juga mendukung:
-
Promosi digital: Menyampaikan cerita desa secara menarik melalui berbagai platform media
-
Pelayanan wisatawan: Memberikan pengalaman positif melalui komunikasi yang ramah dan informatif
-
Pengelolaan konflik: Menjembatani perbedaan kepentingan antar pemangku kepentingan
Seperti disampaikan oleh pakar pemasaran Hermawan Kartajaya, "Desa wisata adalah cara membangun prosperity bersama" . Public speaking menjadi instrumen untuk menyampaikan pesan bahwa kesejahteraan bersama dapat dibangun dari potensi lokal, sekecil apa pun.
Penutup
Desa Wisata Kubu Gadang telah membuktikan bahwa keterbatasan sumber daya alam bukanlah hambatan untuk berkembang. Kreativitas, inovasi, dan kerja keras masyarakat, ditopang oleh kemampuan komunikasi yang baik, mampu mengangkat desa ini dari daerah kecil hingga ke tingkat Asia .
Bagi saya sebagai local champion, public speaking bukanlah keterampilan yang instan. Ia tumbuh dari pengalaman, latihan, dan keberanian untuk terus berbicara di depan publik—mulai dari forum desa hingga panggung internasional. Setiap kata yang disampaikan adalah jembatan yang menghubungkan Kubu Gadang dengan dunia, dan setiap cerita yang dibagikan adalah undangan bagi lebih banyak orang untuk datang, belajar, dan turut merasakan keindahan serta kearifan lokal yang kami miliki.
Kepada para penggerak desa wisata di seluruh Indonesia: jangan pernah meremehkan kekuatan public speaking. Suara kita adalah kekuatan kita. Dengan komunikasi yang baik, desa sekecil apapun dapat bersinar di panggung dunia.